Daftar Blog Saya


pondik lanjutan yang kesekian1

0

Suatu hari Pondik pergi ke hutan mencari madu. Sampai ditengah hutan Pondik melihat sebatang pohon yang penuh ditumbuhi jamur kuping. Pohon itu kira-kira empat peluk besarnya. Ia merasa tertarik terhadap jamur kuping pada pohon itu. Niat mencari madu dibatalkan dan Pondik pulang ke kampung. Pondik menceritakan kepada orang-orang serumah dengan dia tentang pohon yang ditumbuhi jamur kuping itu. Cerita Pondik itu juga sampai pada beberapa orang kampung, merekapun datang bertandang kerumah Pondik, dan mereka ingin ikut ke hutan untuk memetik jamur kuping bersama Pondik.

Pondik mengajak orang-orang sekampungnya pergi memetik jamur kuping di hutan itu. Ajakan pondik itu mendapat sambutan dari orang-orang sekampungnya, karena itu pria maupun wanita banyak yang hendak pergi ke hutan. Keesokkan harinya mereka pergi beramai-ramai ke hutan. Sesampainya di sana mereka sungguh gembira menyaksikan jamur kuning yang tumbuh di pohon itu. Pondik dan orang-orang itu berunding bagaimana cara memetik jamur-jamur itu. Ada yang mengusulkan beberapa orang untuk memanjat, memetik dan membuang ke tanah, sedangkan yang lain mengumpulkan dan setelah terkumpul baru dibagi-bagi. Usul itu tidak disetujui agar jamur-jamur itu tidak hancur. Lalu ada usul supaya pohon itu di tebang, tetapi perlu disanggah oleh semua kaum pria, sehingga pohon itu tumbang tidak sampai ke tanah. Usul ini dianggap yang paling baik sehingga diterima oleh semua yang hadir. Pondik menebang pohon itu dan orang-orang berbaris pada arah pohon akan tumbang. Apabila pohon tumbang, mereka menyanggahnya agar pohon tidak jatuh ke tanah, dan jamur selamat. Saran Pondik itu tak seorangpun yang membantah, mereka menganggap Pondik orang pandai, sehingga apa yang dikatakannya semua benar. Demikian pula dengan suruhannya untuk menyanggah pohon itu. Waktu terdengar bunyi tanda pohon akan tumbang, Pondik memberi aba-aba agar mereka siap. Akhirnya pohon itu miring dan perlahan-lahan jatuh ke arah para penyanggah, lalu tumbang. Berat pohon itu tidak seimbang dengan kekutan orang-orang itu sehingga mereka tertindih dan mati. Ada yang kepalanya pecah, darah keluar dari mulut dan hidung, patah tulang dan sebagainya. Pondik menyuruh ibu-ibu dan gadis-gadis memetik jamur, walaupun diantara ibu dan gadis itu enggan karena suami, anak, kakak, ayah dan keluarga mereka mati tertindih pohon itu.


pondik lanjut lagiiiiiiiii

0

Kira-kira sudah sebulan Pondik tidak menjenguk isterinya, rasa kangen timbul tetapi ia tetap meredamnya. Pondik mencari akal untuk menipu isterinya. Ia mendapat akal pura-pura sakit berat, berbicara tanpa arah, bicara sendirian tak dapat dimengerti oleh orang yang mendengarkannya. Keesokkan paginya Pondik pura-pura mati, ia berusaha sedemikian rupa untuk mengatur denyut jantung agar tidak terasa denyutannya apabila diraba para pelayat.

Keluarga mengutus pembawa berita kematian Pondik kepada isteri dan mertuanya. Molas Nggoang menangis mendengar berita kematian suaminya. Ratapan Molas Nggoang memilukan hati yang mendengarnya. Beberapa saat kemudian Molas Nggoang dan keluarga orang tuanya berangkat ke kampung suaminya. Tiba di depan kampung, Molas Nggoang dan wanita keluarga orang tuanya mulai meratapi jenazah Pondik. Ratapan Molas Nggoang sambil mengucapkan kata-kata bagaikan jarum jahit patah, dan ia kehilangan jarum untuk menjahit. Tiba di rumah, Molas Nggoang meratap sambil memeluk jenazah suaminya. Molas Nggoang menangis sejadi-jadinya sehingga badannya lemas, dan ia pingsan. Pondik tahu isterinya pingsan, ia bangun dan melemparkan kain kafan yang membungkusnya. Para pelayat hiruk-pikuk, mereka lari keluar rumah. Mereka dicekam ketakutan, karena baru sekali ini terjadi orang yang mati hidup kembali. Pondik memeluk isterinya, mengangkat dan memangkunya, tetapi isterinya belum juga siuman. Pondik meminta bantuan kepada orang-orang yang masih berada di dalam rumah untuk menolong isterinya agar sadar kembali. Tak seorangpun yang berani memberi bantuan, karena mereka masih ketakutan, sebab jenazah telah bangun dari pembaringan. Salah seorang tokoh masyarakat kampung memberanikan diri mendekati Pondik yang memeluk isterinya. Orang itu memegang bahu Pondik, ia mengguncangkannya sambil bertanya, “apakah engkau Pondik yang telah mati itu, atau arwah si Pondik?” Pondik menjawab, “benar, saya ini adalah Pondik.” Saat itu Molas Nggoang siuman, dan sangat terkejut, ia berada dalam pangkuan suaminya. Antara percaya dan tidak, Molas Nggoang memeluk suaminya. Molas Nggoang menanyai suaminya, “mengapa engkau hidup kembali?” Pondik sudah mempersiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan yang akan dilontarkan, ia menjawab pertanyaan isterinya, “ratapanmu yang menghayat hati di dengar oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan menyayangimu, karena itu ia menyuruh arwahku kembali ke bumi.”


pondik lanjutan.....................

0

Menjelang setahun mereka hidup bersama, terjadi perbedaan pendapat antara Pondik dan isterinya mengenai tempat tinggal.

Pondik menginginkan untuk tinggal di kampung suami sebaliknya Molas nggoang mempertahankan untuk tinggal di kampungnya. Pondik berusaha keras untuk meluluhkan pendirian Molas Nggoang, segala macam cara dilakukannya, dan berhasil, isterinya menerima tinggal di kampung Pondik.
Pondik memboyong Molas Nggoang ke kampungnya dan tinggal bersama kedua orang tuanya. Beberapa bulan saja dirumah orang tua Pondik, Molas Nggoang pulang ke rumah orang tuanya. Molas Nggoang pulang ke rumah orang tuanya bukan karena cekcok atau tidak senang dengan ayah dan ibu mertuanya, melainkan ia tidak betah di rumah itu. Mula-mula Pondik bertahan tidak mengikuti Molas Nggoang ke rumah orang tuanya. Tetapi setelah seminggu berlalu Pondik mengalah juga, ia pergi ke rumah Molas Nggoang. Beberapa hari di rumah itu Ppondik mengajak isterinya kembali ke rumah orang tuanya, mula-mula Molas Nggoang menolak ajakan pondik, tetapi kemampuan Pondik menyakinkan isterinya, sehingga keduanya kembali ke rumah orang tua Pondik. Molas Nggoang hanya beberapa hari saja di rumah Pondik, lalu kembali lagi ke rumah orang tuanya. Entah apa yang menyebabkannya tidak betah di rumah orang tua suaminya. Merupakan teka-teki. Pondik tidak mau menjemput isterinya, karena berulang-ulang kali terjadi.


SI PONDIK I

0

Pada waktu masih kanak-kanak, Pondik terkenal sebagai anak yang rajin. Pekerjaan apa saja yang ditugaskan kepadanya, ia mengerjakannya dengan senang hati. Ia tidak comel kalau disuruh melakukan pekerjaan. Orang sekampungnya selalu memuji Pondik karena kerajinan dan ketekunan mengerjakan pekerjaan. Pondik semakin menanjak ke masa dewasa. Ia juga terkenal sebagai anak yang sopan santun dan berwatak baik.

Namun Pondik rupanya kurang kuat menghadapi cobaan-cobaan. Tingkah lakunya berubah sejalan dengan perkembangannya sebagai seorang pemuda, kerajinan dan ketekunannya bekerja memang tidak berubah, tetapi tanda-tanda menipu dan silat lidah mulai nampak. Kelincahan membela diri dilakukan pada ayahnya sendiri. Suatu hari ayahnya mengajak Pondik pergi memotong alang-alang untuk menyisip atap rumah. Tiba di tempat alang-alang itu ayah dan anak itu menyabit alang-alang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasil sabitan ditumpukkan pada satu tempat. Setelah tumpukan banyak pondik disuruh ayahnya membersihkan alang-alang itu, rumput-rumput yang lain dan alang-alang yang rusak dipisahkan. Pondik mulai mencoba kesabaran, ketelitian dan kejelian ayahnya. Pondik mengambil kayu yang keras, garis tengahnya kira-kira 20 cm, panjangnya satu setengah meter. Ia menajamkan kayu itu lalu ditancapkan. Alang-alang yang telah dibersihkan didirikan sekeliling kayu, pokok-pokoknya keatas dan ujungnya ke tanah. Setiap lilitan tebal sekali dan dibuatnya hingga sepuluh lilitan. Setelah selesai kelihatannya seperti pondok. Pondik masuk ke dalam dan memeluk kayu tadi. Tengah hari ayahnya berhenti menyabit hendak pulang ke rumah untuk makan siang. Ia pergi ke tempat penumpukan alang-alang, tetapi Pondik tidak ada di tempat itu. Ia memanggil-manggil Pondik, tetapi tidak ada jawaban. Cukup lama orang tua itu mencari tetapi Pondik belum ditemukan. Pasti Pondik sudah pulang ke rumah pikirnya dan ia bermaksud pulang juga.
Tumpukkan alang-alang yang berdiri tegak itu dikiranya bagian yang telah diikat untuk dibawanya. Orang tua itu mengangkatnya untuk dipikul ke rumah, tetapi tidak terangkat. Ia mencoba berkali-kali tetapi tidak terangkat juga. Ia menghunus parang yang disandangnya dan menebas tumpukan alang-alang agar tali pengikatnya putus. Ikatan untuk tiap lilitan demikian kuat sehingga untuk melepaskan satu lilitan memerlukan beberapa kali tebasan. Begitu seterusnya hingga lilitan kelima. Pondik merasa tebasan ayahnya sudah semakin dekat, ia berteriak, “ayah, saya ada disini”, sambil bergegas keluar. Ayahnya menanyakan Pondik mengapa ia berbuat demikian, tetapi Pondik tidak menjawab. Ayahnya sangat marah tetapi Pondik diam-diam saja seolah-olah tak ada kejadian.
Alang-alang yang akan dibawa saat itu diikat masing-masing, dan keduanya pulang. Selama beberapa hari Pondik dan ayahnya mengambil dan memintal alang-alang. Mereka menyisip atap rumah yang rusak sehingga pada musim hujan tahun itu rumah tidak bocor lagi.
Pondik telah dewasa dan telah matang untuk berumah tangga. Kedua orang tuanya memberitahu Pondik untuk mencari wanita calon teman hidupnya. Pada sebuah kampung yang cukup jauh dari kampung Pondik, ada seorang gadis cantik bernama Molas Nggoang. Suatu hari tongka (juru bicara) dan Pondik serta beberapa orang anggota keluarga ayahnya pergi ke kampung itu untuk meminang Molas Nggoang. Pinangan mereka ditolak oleh Molas Nggoang, tetapi orang tua dan keluarga lainnya memaksa Molas Nggoang untuk menerima pinangan keluarga Pondik. Paksaan itu tak mampu meluluh lantakan perasaan Molas Nggoang, ia tetap menolak pinangan keluarga Pondik. Orang tua dan keluarga Molas Nggoang tidak putus asa, segala macam cara dilakukan agar pertahanan Molas Nggoang dapat dipatahkan. Usaha mereka yang terakhir adalah meminta bantuan seoang dukun, dan rupanya kemampuan dukun itu dapat mematahkan pertahanan Molas Nggoang dan akhirnya menerima pinangan keluarga Pondik. Molas Nggoang akhirnya menikahi Pondik dan tinggal bersama keluarga Molas Nggoang.


WÉLA RUNU, EMPO RUA DAN WULU JO

1

Wéla runu adalah seorang gadis cilik yang cantik. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah kampung. Kampung mereka kira-kira 5 km jaraknya dari hutan lebat. Pada suatu musim tanam, penduduk kampung itu membuka lahan ditepi hutan lebat. Kedua orang tua Wéla Runu juga mengerjakan kebun di lahan itu.
Sekitar enam bulan padi dan jagung berbuah. Burung gagak, pipit, kakak tua serta burung-burung yang lain setiap hari memakan padi dan jagung para pemilik ladang itu.

Ibu Wéla Runu setiap hari pergi ke kebun menghantarkan makanan untuk anaknya. Sementara Wéla Runu makan, ibunya jalan-jalan di kebun mengusir burung. Setelah Wéla Runu selesai makan, ibunya pulang ke rumah. Wéla Runu dan kawan-kawannya pulang ke kampung setelah burung-burung kembali kesarang. Kadang-kadang mereka kegelapan sejak dari kebun.
Beberapa bulan kemudian terjadilah suatu hal yang tidak terduga. Suatu hari Empo Rua datang ke pondok Wéla Runu, tentu saja Wéla Runu sangat takut. Empo Rua menenangkan Wéla Runu, katanya, “jangan takut cucuku, aku tak berbuat apa-apa denganmu. Siapa temanmu disini?” Wéla Runu menjawab dengan gemetar, “aku sendirian, nek”, Empo Rua berkata lagi, “ambillah empat potong teno (kayu senu), tanam pada empat sudut kebun agar padi dan jagung tidak dimakan burung-burung, babi hutan dan binatang lainnya”. Wéla Runu menuruti suruhan Empo Rua, lalu keempat potong kayu senu itu ditanam disudut kebun itu. Setelah selesai ditanam, Wéla Runu kembali ke pondok dan melaporkan kepada Empo Rua yang sedang menantikan di pondok.
Keesokkannya Wéla Runu kembali ke kebun, tetapi kali ini ia tidak terlalu bergegas, ia ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Empo Rua kemarin. Wéla Runu tiba di kebun setelah matahari agak tinggi. Ia menyaaksikan tak seekor burung dan binatang yang memakan padi dan jagungnya, lewat di kebunnya pun tidak. Wéla Runu menganguk-angguk, “benar kata nenek Empo Rua kemarin”. Ia berjalan di seputar kebunnya, tak ada bekas kerusakan tanaman untuk pagi itu. Wéla Runu kembali ke pondok, ia duduk di depan pondoknya, tetapi hingga tengah hari tak seekor burung pipit dan bintang lain yang datang ke kebunnya. Beberapa saat kemudian, ibunya datang menghantarkan makanan. Wéla Runu tidak menceritakan kejadian itu kepada ibunya, juga kepada ayahnya di rumah. Setelah itu ibunya pulang, sedangkan ia sendiri bersama-sama kawannya pulang sore agak gelap. Kira-kira pukul 07. 00 pagi keesokkan harinya Wéla Runu telah berada di kebunnya. Sesaat kemudian Empo Rua datang ke pondok Wéla Runu sambil berkata,”cucu, ini temanmu.” Wéla Runu menerima ayam jantan itu dan berkata, “terima kasih, nek.” Wéla Runu menambatkan ayam jantan itu di kolong pondoknya.
Empo Rua pamit kembali ke rumahnya. Ayam jantan itu berkokok satu kali, Wéla Runu melihat ke kolong, ia melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sebaya dengannya. Wéla Runu memanggil kedua anak itu masuk ke pondok. Kedua anak itu masuk ke pondok dengan sopan. Mereka bertiga akrab sekali seolah-olah kawan lama. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang akrab dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Tengh hari ibu Wéla Runu menghantar makanan, ia heran melihat kedua anak itu, diperhatikannya dengan teliti barangkali kawannya sekampung, tetapi tidak ada anak warga kampung yang serupa dengan kedua anak itu. Wéla Runu tahu keheranan ibunya, karena itu ia menjelaskan kepada ibunya perihal kedua anak itu. Lalu Wéla Runu mempersilahkan ibunya kembali ke kampung, alat-alat makan dibawanya sendiri sore. Wéla Runu mengajak kedua temannya itu ke rumah.
Kedua temannya berkata, “kak, kami hanya menghantar kakak sampai di depan kampung, lalu kami kembali ke pondok bersama ayam jantan ini, karena nenek Empo Rua menugaskan kami menjaga kebun”. Wéla Runu tidak memaksa kedua temannya itu agar mereka tidak mendapat siksaan dari nenek Empo Rua. Ketiganya berangkat ke kampung bersama ayam jantan itu. Sampai di depan kampung, kedua teman Wéla Runu itu kembali ke kebun bersama ayam jantan.
Panen jagung diseluruh ladang warga kampung, ada yang mengembirakan petani, ada pula yang kurang memuaskan, karena serangan Babi hutan , burung gagak serta binatang lainnya. Keluarga Wéla Runu berbeda dengan yang lain mereka mendapat panen jagung yang melimpah. Demikian pula panen padi keluarga Wéla Runu terlalu jauh perbedaannya dengan keluarga lain. Rumah mereka tak mampu menampung, sehingga dibuat sebuah gudang untuk menyimpan padi itu. Ayah Wéla Runu mengadakan pesta syukuran, karena penghasilan yang diperoleh memang patut disyukuri. Empo Rua juga diundang untuk menghadiri pesta tersebut. Pada malam pesta itu Empo Rua datang sekitar pukul sepuluh malam. Ia dipersilahkan duduk bersama tamu yang dihormati. Pesta itu meriah sekali dan tamu-tamu bersukaria hingga pagi, kecuali Empo Rua berpamit pada saat ayam berkokok yang ketiga kalinya. Sebelum ia berangkat ia memesan kepada ayah Wéla Runu agar Wéla Runu pergi ke pondok untuk menerima sesuatu hal yang perlu disampaikan. Tanpa curiga sedikitpun, Wéla Runu pergi ke kebun untuk menemui Empo Rua. Kedua teman Wéla Runu gembira sekali bertemu dengan dia di pondok. Mereka berbicara dan tertawa gembira sebelum Empo Rua datang. Wéla Runu menceritakan kepada mereka suasana pesta yang ramai, tamu-tamu yang hadir, dan persiapan makanan dan lauk yang memuaskan para tamu. Sementara mereka bertiga asyik bercerita Empo Rua muncul. Ia tertawa ria sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada ketiga anak itu. Setelah duduk beberapa saat Empo Rua berkata,”cu, mari kita ke rumah, ada yang akan saya sampaikan dan hadiah untuk kalian”.
Tanpa rasa curiga ketiga anak itu pergi bersama Empo Rua ke rumahnya di hutan. Sampai pada batas kebun dengan kawasan hutan, ayam jantan berkokok, “kakor o . . . . . o . . . . . o cai lé oné céwé mésé (cai lé = sampai disana, sampai di rumah, oné = di dalam, céwé = kuali, mésé = besar), artinya sampai di rumah kalian akan di masak pada kuali besar. Ayam jantan itu berkokok samapai lima kali hingga di depan rumah Empo Rua. Wéla Runu dan kedua orang temannya sudah mencurigai niat jahat Empo Rua sejak ayam jantan itu berkokok kedua kalinya. Mereka masing-masing memendamkannya, karena mereka tidak mungkin lari, mereka terjepit dengan kenyataan bahwa mereka telah berada dalam genggaman raksasa.
Sebelum masuk ke rumah, Empo Rua memanggil isterinya, “Jo, Jo, Jo, ini cucu-cucu kita yang molek dan ganteng”. Wulu Jo senang sekali mendapat ketiga cucu itu, lalu katanya, “cu, cu, masuklah, nenek telah menyiapkan kamar untuk kalian”. Ketiga anak itu berjalan di depan, Empo Rua mengikuti mereka masuk ke rumah. Wulu Jo menerima anak-anak itu dengan riang gembira dan akrab sekali. Tetapi ketiga anak itu telah mengetahui niat jahat suami-isteri itu.
Pada malam hari Wéla Runu dan teman wanitanya tidur sekamar, anak laki-laki dan ayam jantan tidur di kamar lain. Wéla Runu memperhatikan keadaan kamar dengan cermat. Lantai rumah terbuat dari bambu, demikian pula di kamar Wéla Runu serta bambu sudah lapuk. Wéla Runu memberitahukan kawannya dengan cara berbisik agar mereka berusaha lolos dari rumah itu, lari pada saat Empo Rua dan Wulu Jo tidur nyenyak. Kawannya menanyakan, “kak, kita keluar dari sini lewat mana?” Wéla Runu menjawab,”ikut kolong, kita bersama-sama membuat lubang pada lantai. Kita harus berusaha agar bambu lencar ini patah, tetapi hindarkan bunyi patahan yang bisa di dengar orang”. Setelah menimbang pembicaraan Wéla Runu, gadis yang seorang itu menjawab,”baiklah, kak, itu rencana yang baik”.
Merekapun mulai mematahkan bambu léncar itu perlahan-lahan. Pertama dan kedua bambu léncar dipatahkan belum menimbulkan kecurigaan pada anak laki-laki yang sekamar dengan ayam jantan itu.
Bunyi patahan ketiga anak laki-laki itu menanyakan, “apa yang kamu lakukan itu?” Wéla Runu menjawab,”tidak buat apa-apa, kami memukul pijat”. Anak laki-laki berkata lagi,”jika kalian tidak memberitahukan saya, perbuatan kalian akan saya laporkan kepada nenek Empo Rua dan Wulu Jo”. Wéla Runu memberitahu anak laki-laki itu melalui lubang celah dinding, “sebaiknya kita lari dari sini, kami sedang membuat lubang pada lantai, agar kita keluar melalui kolong. Beritahu ayam jantan itu untuk memata-matai Empo Rua dan Wulu Jo. Ia tolong beritahu kita, apakah keduanya telah tidur dengan nyenyak, sehingga kita dapat keluar satu-persatu dari sini”. Anak laki-laki itu berkata, “kawan, tolong beritahu kami apabila Empo Rua dan Wulu Jo telah tidur nyenyak, bantulah kami kawan”. Ayam jantan itu seolah-olah memberi jawaban kepada anak-anak itu, “kok”.
Tengah malam Wéla Runu dan kawan-kawannya menghancurkan cabe rawit sebanyak tiga tabung. Ayam jantan berkokok, “kakor . . . . . . o . . . . . o mereka telah tidur”. Ia memberitahu bahwa Empo Rua dan Wulu Jo telah tidur. Ketiga anak itu mulai bersiap-siap. Kira-kira pukul 02.00 ayam jantan itu berkokok lagi, “kakor . . . . .o . . . . . o keduanya telah nyenyak”. Wéla Runu melalui lubang di kolong dengan hati-hati sekali, lalu menanti kedua kawannya dalam semak beberapa meter dari rumah Empo Rua. Setelah itu berturut kawan wanitanya dan anak laki-laki itu. Ketiganya bergegas pergi dari tempat itu agar tidak kedapatan oleh Empo Rua.
Malam itu bulan terang benar karena tak ada kabut yang merintangi cahaya bulan menerangi bumi. Setelah jauh dari rumah Empo Rua, sampailah mereka pada tempat yang rata dan luas. Di tempat itu ada sebuah danau besar dan airnya jernih. Pada tepi danau itu terdapat sebuah pohon yang paling besar diantara pohon lainnya. Ketiga anak itu sepakat tidur sambil menanti fajar tiba untuk meelanjutkan perjalanan.
Wéla Runu mngusulkan tidur pada cabang batang pohon besar itu tetapi yang cukup tinggi dari tanah, agar tidak terjangkau oleh Empo Rua apabila ia telah mengetahui kalau mereka telah lari dari rumah. Empo Rua pasti mencari dan mengejar mereka. Ketiganya satu-persatu memanjat ke cabang yang terjauh dari tanah. Wéla Runu memberitahu kedua temannya untuk tidur, tetapi tetap waspada. Belum beberapa lama mereka tidur, kedengaran suara geram dan derap langkah yang hebat. Itulah Empo Rua yang mengejar dan mencari mereka. Anak-anak melihat dengan jelas bayang-bayang hitam besar dan tinggi menuju tempat itu. Empo Rua memepercepat langkahnya, dan rupa-rupanya ia telah mencium bau badan manusia. Sampai di danua itu Empo Rua berhenti, lalu berjalan ke kiri dan ke kanan dekat pohon besar tempat anak-anak itu bersembunyi. Pohon itu tidak terlalu rimbun daunnya sehingga cahaya bulan menerangi air danau dibawah pohon itu. Bayang-bayang ketiga anak itu kelihatan jelas di air danau. Empo Rua senang benar melihat mangsanya ada di air danau, karena itu ia menceburkan dirinya ke air sambil tangannya menangkap tetapi kosong sehingga ia sangat kecewa. Empo Rua lompat kembali ke darat dengan geram. Ia melihat kembali ke danau terlihat lagi dua anak wanita dan seorang anak laki-laki. Ia mencebur lagi sambil menangkap, juga kosong. Ia melakukan itu sampai lima kali, hasilnya sama saja. Empo Rua sungguh-sungguh kecewa dan marah. Ia marah dengan geram sambil mengumpat-umpat. Sementara ia marah karena kecewa, secara tidak sengaja ia menengadah ke atas pohon. Betapa girangnya Empo Rua melihat ke tiga anak itu di atas pohon. Ia menari-nari kesana ke mari, derap langkahnya begitu kuat sehingga tanah di tempat ia menari bagaikan diguncang gempa. Ketiga anak itu telah siap dengan tabung air lombok cabe rawit untuk disiram ke mata Empo Rua yang sedang membelalak. Empo Rua memanjat pohon itu, ia sungguh-sungguh bertekad menangkap ketiga anak itu dan dibawa kembali ke rumahnya.
Ketika Empo Rua hampir mendekati cabang yang di tempati anak-anak itu, mereka secara bersama-sama dan serentak menyirami mata Empo Rua dengan air lombok. Empo Rua kepedisan, ia menggosok-gosok matanya dengan tangan. Semakin ia menggosok matanya dengan tangan, pedis matanya semakin hebat. Empo Rua gemetaran kepedisan, lalu jatuh ke tanah. Ia meminta bantuan kepada ketiga anak itu, bagaimana cara menghilangkan kepedisan matanya itu. Kebetulan tak jauh dari tempat Empo rua ada batu yang ujungnya lancip dan tajam. Wéla Runu menjawab permintaan Empo Rua, “nek, cocokkan porosmu pada batu tajam itu agar pedis di matamu hilang”.
Tanpa memperhitungkan akibat dari saran Wéla Runu itu, Empo Rua mengambil ancang-ancang dan dengan kekuatan dahsyat ia mencocokkan kedudukannya dan poros ke batu tajam itu. Ia berteriak hebat dan sesudah itu tidak kedengaran apa-apa lagi, ia telah mati. Anak-anak melihat tubuh Empo Rua terbelah dari poros hingga ke lehernya. Mereka bergegas turun dan segera meninggalkan tempat itu, agar tidak kedapatan oleh Wulu Jo yang mungkin akan menyusul suaminya, setelah berjalan beberapa lama matahari mulai bersinar di ufuk timur. Mereka pergi ke kampung Wéla Runu. Beberapa jam kemudian mereka pun tiba di kampung Wéla Runu. Kedua orang tua dan seluruh keluarga Wéla Runu sangat gembira kepada anak mereka yang telah hilang selama lima hari telah kembali. Orang tua Wéla Runu menanyakan asal kedua kawannya itu. Mereka menjawab bahwa mereka berasal dari kampung masing-masing yang sangat jauh dari kampung itu. Merekapun diculik pada saat menjaga burung, babi hutan, kera serta binatang lain yang menyerang tanaman. Jalan ke kampung mereka tidak tahu karena dibawa oleh Empo Rua dalam hutan yang sangat lebat. Wéla Runu mengisahkan secara rinci usaha mereka meloloskan diri dari rumah Empo Rua. Selanjutnya kedua kawan Wéla Runu diangkat orang tuanya sebagai anak mereka.


WÉLA RUNU, EMPO RUA DAN WULU JO

0

Wéla runu adalah seorang gadis cilik yang cantik. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah kampung. Kampung mereka kira-kira 5 km jaraknya dari hutan lebat. Pada suatu musim tanam, penduduk kampung itu membuka lahan ditepi hutan lebat. Kedua orang tua Wéla Runu juga mengerjakan kebun di lahan itu.

Sekitar enam bulan padi dan jagung berbuah. Burung gagak, pipit, kakak tua serta burung-burung yang lain setiap hari memakan padi dan jagung para pemilik ladang itu.
Ibu Wéla Runu setiap hari pergi ke kebun menghantarkan makanan untuk anaknya. Sementara Wéla Runu makan, ibunya jalan-jalan di kebun mengusir burung. Setelah Wéla Runu selesai makan, ibunya pulang ke rumah. Wéla Runu dan kawan-kawannya pulang ke kampung setelah burung-burung kembali kesarang. Kadang-kadang mereka kegelapan sejak dari kebun.
Beberapa bulan kemudian terjadilah suatu hal yang tidak terduga. Suatu hari Empo Rua datang ke pondok Wéla Runu, tentu saja Wéla Runu sangat takut. Empo Rua menenangkan Wéla Runu, katanya, “jangan takut cucuku, aku tak berbuat apa-apa denganmu. Siapa temanmu disini?” Wéla Runu menjawab dengan gemetar, “aku sendirian, nek”, Empo Rua berkata lagi, “ambillah empat potong teno (kayu senu), tanam pada empat sudut kebun agar padi dan jagung tidak dimakan burung-burung, babi hutan dan binatang lainnya”. Wéla Runu menuruti suruhan Empo Rua, lalu keempat potong kayu senu itu ditanam disudut kebun itu. Setelah selesai ditanam, Wéla Runu kembali ke pondok dan melaporkan kepada Empo Rua yang sedang menantikan di pondok.
Keesokkannya Wéla Runu kembali ke kebun, tetapi kali ini ia tidak terlalu bergegas, ia ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Empo Rua kemarin. Wéla Runu tiba di kebun setelah matahari agak tinggi. Ia menyaaksikan tak seekor burung dan binatang yang memakan padi dan jagungnya, lewat di kebunnya pun tidak. Wéla Runu menganguk-angguk, “benar kata nenek Empo Rua kemarin”. Ia berjalan di seputar kebunnya, tak ada bekas kerusakan tanaman untuk pagi itu. Wéla Runu kembali ke pondok, ia duduk di depan pondoknya, tetapi hingga tengah hari tak seekor burung pipit dan bintang lain yang datang ke kebunnya. Beberapa saat kemudian, ibunya datang menghantarkan makanan. Wéla Runu tidak menceritakan kejadian itu kepada ibunya, juga kepada ayahnya di rumah. Setelah itu ibunya pulang, sedangkan ia sendiri bersama-sama kawannya pulang sore agak gelap. Kira-kira pukul 07. 00 pagi keesokkan harinya Wéla Runu telah berada di kebunnya. Sesaat kemudian Empo Rua datang ke pondok Wéla Runu sambil berkata,”cucu, ini temanmu.” Wéla Runu menerima ayam jantan itu dan berkata, “terima kasih, nek.” Wéla Runu menambatkan ayam jantan itu di kolong pondoknya.
Empo Rua pamit kembali ke rumahnya. Ayam jantan itu berkokok satu kali, Wéla Runu melihat ke kolong, ia melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sebaya dengannya. Wéla Runu memanggil kedua anak itu masuk ke pondok. Kedua anak itu masuk ke pondok dengan sopan. Mereka bertiga akrab sekali seolah-olah kawan lama. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang akrab dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Tengh hari ibu Wéla Runu menghantar makanan, ia heran melihat kedua anak itu, diperhatikannya dengan teliti barangkali kawannya sekampung, tetapi tidak ada anak warga kampung yang serupa dengan kedua anak itu. Wéla Runu tahu keheranan ibunya, karena itu ia menjelaskan kepada ibunya perihal kedua anak itu. Lalu Wéla Runu mempersilahkan ibunya kembali ke kampung, alat-alat makan dibawanya sendiri sore. Wéla Runu mengajak kedua temannya itu ke rumah.
Kedua temannya berkata, “kak, kami hanya menghantar kakak sampai di depan kampung, lalu kami kembali ke pondok bersama ayam jantan ini, karena nenek Empo Rua menugaskan kami menjaga kebun”. Wéla Runu tidak memaksa kedua temannya itu agar mereka tidak mendapat siksaan dari nenek Empo Rua. Ketiganya berangkat ke kampung bersama ayam jantan itu. Sampai di depan kampung, kedua teman Wéla Runu itu kembali ke kebun bersama ayam jantan.
Panen jagung diseluruh ladang warga kampung, ada yang mengembirakan petani, ada pula yang kurang memuaskan, karena serangan Babi hutan , burung gagak serta binatang lainnya. Keluarga Wéla Runu berbeda dengan yang lain mereka mendapat panen jagung yang melimpah. Demikian pula panen padi keluarga Wéla Runu terlalu jauh perbedaannya dengan keluarga lain. Rumah mereka tak mampu menampung, sehingga dibuat sebuah gudang untuk menyimpan padi itu. Ayah Wéla Runu mengadakan pesta syukuran, karena penghasilan yang diperoleh memang patut disyukuri. Empo Rua juga diundang untuk menghadiri pesta tersebut. Pada malam pesta itu Empo Rua datang sekitar pukul sepuluh malam. Ia dipersilahkan duduk bersama tamu yang dihormati. Pesta itu meriah sekali dan tamu-tamu bersukaria hingga pagi, kecuali Empo Rua berpamit pada saat ayam berkokok yang ketiga kalinya. Sebelum ia berangkat ia memesan kepada ayah Wéla Runu agar Wéla Runu pergi ke pondok untuk menerima sesuatu hal yang perlu disampaikan. Tanpa curiga sedikitpun, Wéla Runu pergi ke kebun untuk menemui Empo Rua. Kedua teman Wéla Runu gembira sekali bertemu dengan dia di pondok. Mereka berbicara dan tertawa gembira sebelum Empo Rua datang. Wéla Runu menceritakan kepada mereka suasana pesta yang ramai, tamu-tamu yang hadir, dan persiapan makanan dan lauk yang memuaskan para tamu. Sementara mereka bertiga asyik bercerita Empo Rua muncul. Ia tertawa ria sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada ketiga anak itu. Setelah duduk beberapa saat Empo Rua berkata,”cu, mari kita ke rumah, ada yang akan saya sampaikan dan hadiah untuk kalian”.
Tanpa rasa curiga ketiga anak itu pergi bersama Empo Rua ke rumahnya di hutan. Sampai pada batas kebun dengan kawasan hutan, ayam jantan berkokok, “kakor o . . . . . o . . . . . o cai lé oné céwé mésé (cai lé = sampai disana, sampai di rumah, oné = di dalam, céwé = kuali, mésé = besar), artinya sampai di rumah kalian akan di masak pada kuali besar. Ayam jantan itu berkokok samapai lima kali hingga di depan rumah Empo Rua. Wéla Runu dan kedua orang temannya sudah mencurigai niat jahat Empo Rua sejak ayam jantan itu berkokok kedua kalinya. Mereka masing-masing memendamkannya, karena mereka tidak mungkin lari, mereka terjepit dengan kenyataan bahwa mereka telah berada dalam genggaman raksasa.
Sebelum masuk ke rumah, Empo Rua memanggil isterinya, “Jo, Jo, Jo, ini cucu-cucu kita yang molek dan ganteng”. Wulu Jo senang sekali mendapat ketiga cucu itu, lalu katanya, “cu, cu, masuklah, nenek telah menyiapkan kamar untuk kalian”. Ketiga anak itu berjalan di depan, Empo Rua mengikuti mereka masuk ke rumah. Wulu Jo menerima anak-anak itu dengan riang gembira dan akrab sekali. Tetapi ketiga anak itu telah mengetahui niat jahat suami-isteri itu.
Pada malam hari Wéla Runu dan teman wanitanya tidur sekamar, anak laki-laki dan ayam jantan tidur di kamar lain. Wéla Runu memperhatikan keadaan kamar dengan cermat. Lantai rumah terbuat dari bambu, demikian pula di kamar Wéla Runu serta bambu sudah lapuk. Wéla Runu memberitahukan kawannya dengan cara berbisik agar mereka berusaha lolos dari rumah itu, lari pada saat Empo Rua dan Wulu Jo tidur nyenyak. Kawannya menanyakan, “kak, kita keluar dari sini lewat mana?” Wéla Runu menjawab,”ikut kolong, kita bersama-sama membuat lubang pada lantai. Kita harus berusaha agar bambu lencar ini patah, tetapi hindarkan bunyi patahan yang bisa di dengar orang”. Setelah menimbang pembicaraan Wéla Runu, gadis yang seorang itu menjawab,”baiklah, kak, itu rencana yang baik”.
Merekapun mulai mematahkan bambu léncar itu perlahan-lahan. Pertama dan kedua bambu léncar dipatahkan belum menimbulkan kecurigaan pada anak laki-laki yang sekamar dengan ayam jantan itu.
Bunyi patahan ketiga anak laki-laki itu menanyakan, “apa yang kamu lakukan itu?” Wéla Runu menjawab,”tidak buat apa-apa, kami memukul pijat”. Anak laki-laki berkata lagi,”jika kalian tidak memberitahukan saya, perbuatan kalian akan saya laporkan kepada nenek Empo Rua dan Wulu Jo”. Wéla Runu memberitahu anak laki-laki itu melalui lubang celah dinding, “sebaiknya kita lari dari sini, kami sedang membuat lubang pada lantai, agar kita keluar melalui kolong. Beritahu ayam jantan itu untuk memata-matai Empo Rua dan Wulu Jo. Ia tolong beritahu kita, apakah keduanya telah tidur dengan nyenyak, sehingga kita dapat keluar satu-persatu dari sini”. Anak laki-laki itu berkata, “kawan, tolong beritahu kami apabila Empo Rua dan Wulu Jo telah tidur nyenyak, bantulah kami kawan”. Ayam jantan itu seolah-olah memberi jawaban kepada anak-anak itu, “kok”.
Tengah malam Wéla Runu dan kawan-kawannya menghancurkan cabe rawit sebanyak tiga tabung. Ayam jantan berkokok, “kakor . . . . . . o . . . . . o mereka telah tidur”. Ia memberitahu bahwa Empo Rua dan Wulu Jo telah tidur. Ketiga anak itu mulai bersiap-siap. Kira-kira pukul 02.00 ayam jantan itu berkokok lagi, “kakor . . . . .o . . . . . o keduanya telah nyenyak”. Wéla Runu melalui lubang di kolong dengan hati-hati sekali, lalu menanti kedua kawannya dalam semak beberapa meter dari rumah Empo Rua. Setelah itu berturut kawan wanitanya dan anak laki-laki itu. Ketiganya bergegas pergi dari tempat itu agar tidak kedapatan oleh Empo Rua.
Malam itu bulan terang benar karena tak ada kabut yang merintangi cahaya bulan menerangi bumi. Setelah jauh dari rumah Empo Rua, sampailah mereka pada tempat yang rata dan luas. Di tempat itu ada sebuah danau besar dan airnya jernih. Pada tepi danau itu terdapat sebuah pohon yang paling besar diantara pohon lainnya. Ketiga anak itu sepakat tidur sambil menanti fajar tiba untuk meelanjutkan perjalanan.
Wéla Runu mngusulkan tidur pada cabang batang pohon besar itu tetapi yang cukup tinggi dari tanah, agar tidak terjangkau oleh Empo Rua apabila ia telah mengetahui kalau mereka telah lari dari rumah. Empo Rua pasti mencari dan mengejar mereka. Ketiganya satu-persatu memanjat ke cabang yang terjauh dari tanah. Wéla Runu memberitahu kedua temannya untuk tidur, tetapi tetap waspada. Belum beberapa lama mereka tidur, kedengaran suara geram dan derap langkah yang hebat. Itulah Empo Rua yang mengejar dan mencari mereka. Anak-anak melihat dengan jelas bayang-bayang hitam besar dan tinggi menuju tempat itu. Empo Rua memepercepat langkahnya, dan rupa-rupanya ia telah mencium bau badan manusia. Sampai di danua itu Empo Rua berhenti, lalu berjalan ke kiri dan ke kanan dekat pohon besar tempat anak-anak itu bersembunyi. Pohon itu tidak terlalu rimbun daunnya sehingga cahaya bulan menerangi air danau dibawah pohon itu. Bayang-bayang ketiga anak itu kelihatan jelas di air danau. Empo Rua senang benar melihat mangsanya ada di air danau, karena itu ia menceburkan dirinya ke air sambil tangannya menangkap tetapi kosong sehingga ia sangat kecewa. Empo Rua lompat kembali ke darat dengan geram. Ia melihat kembali ke danau terlihat lagi dua anak wanita dan seorang anak laki-laki. Ia mencebur lagi sambil menangkap, juga kosong. Ia melakukan itu sampai lima kali, hasilnya sama saja. Empo Rua sungguh-sungguh kecewa dan marah. Ia marah dengan geram sambil mengumpat-umpat. Sementara ia marah karena kecewa, secara tidak sengaja ia menengadah ke atas pohon. Betapa girangnya Empo Rua melihat ke tiga anak itu di atas pohon. Ia menari-nari kesana ke mari, derap langkahnya begitu kuat sehingga tanah di tempat ia menari bagaikan diguncang gempa. Ketiga anak itu telah siap dengan tabung air lombok cabe rawit untuk disiram ke mata Empo Rua yang sedang membelalak. Empo Rua memanjat pohon itu, ia sungguh-sungguh bertekad menangkap ketiga anak itu dan dibawa kembali ke rumahnya.
Ketika Empo Rua hampir mendekati cabang yang di tempati anak-anak itu, mereka secara bersama-sama dan serentak menyirami mata Empo Rua dengan air lombok. Empo Rua kepedisan, ia menggosok-gosok matanya dengan tangan. Semakin ia menggosok matanya dengan tangan, pedis matanya semakin hebat. Empo Rua gemetaran kepedisan, lalu jatuh ke tanah. Ia meminta bantuan kepada ketiga anak itu, bagaimana cara menghilangkan kepedisan matanya itu. Kebetulan tak jauh dari tempat Empo rua ada batu yang ujungnya lancip dan tajam. Wéla Runu menjawab permintaan Empo Rua, “nek, cocokkan porosmu pada batu tajam itu agar pedis di matamu hilang”.
Tanpa memperhitungkan akibat dari saran Wéla Runu itu, Empo Rua mengambil ancang-ancang dan dengan kekuatan dahsyat ia mencocokkan kedudukannya dan poros ke batu tajam itu. Ia berteriak hebat dan sesudah itu tidak kedengaran apa-apa lagi, ia telah mati. Anak-anak melihat tubuh Empo Rua terbelah dari poros hingga ke lehernya. Mereka bergegas turun dan segera meninggalkan tempat itu, agar tidak kedapatan oleh Wulu Jo yang mungkin akan menyusul suaminya, setelah berjalan beberapa lama matahari mulai bersinar di ufuk timur. Mereka pergi ke kampung Wéla Runu. Beberapa jam kemudian mereka pun tiba di kampung Wéla Runu. Kedua orang tua dan seluruh keluarga Wéla Runu sangat gembira kepada anak mereka yang telah hilang selama lima hari telah kembali. Orang tua Wéla Runu menanyakan asal kedua kawannya itu. Mereka menjawab bahwa mereka berasal dari kampung masing-masing yang sangat jauh dari kampung itu. Merekapun diculik pada saat menjaga burung, babi hutan, kera serta binatang lain yang menyerang tanaman. Jalan ke kampung mereka tidak tahu karena dibawa oleh Empo Rua dalam hutan yang sangat lebat. Wéla Runu mengisahkan secara rinci usaha mereka meloloskan diri dari rumah Empo Rua. Selanjutnya kedua kawan Wéla Runu diangkat orang tuanya sebagai anak mereka.


WÉLA RUNU, EMPO RUA DAN WULU JO

0

Wéla runu adalah seorang gadis cilik yang cantik. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah kampung. Kampung mereka kira-kira 5 km jaraknya dari hutan lebat. Pada suatu musim tanam, penduduk kampung itu membuka lahan ditepi hutan lebat. Kedua orang tua Wéla Runu juga mengerjakan kebun di lahan itu.

Sekitar enam bulan padi dan jagung berbuah. Burung gagak, pipit, kakak tua serta burung-burung yang lain setiap hari memakan padi dan jagung para pemilik ladang itu.
Ibu Wéla Runu setiap hari pergi ke kebun menghantarkan makanan untuk anaknya. Sementara Wéla Runu makan, ibunya jalan-jalan di kebun mengusir burung. Setelah Wéla Runu selesai makan, ibunya pulang ke rumah. Wéla Runu dan kawan-kawannya pulang ke kampung setelah burung-burung kembali kesarang. Kadang-kadang mereka kegelapan sejak dari kebun.
Beberapa bulan kemudian terjadilah suatu hal yang tidak terduga. Suatu hari Empo Rua datang ke pondok Wéla Runu, tentu saja Wéla Runu sangat takut. Empo Rua menenangkan Wéla Runu, katanya, “jangan takut cucuku, aku tak berbuat apa-apa denganmu. Siapa temanmu disini?” Wéla Runu menjawab dengan gemetar, “aku sendirian, nek”, Empo Rua berkata lagi, “ambillah empat potong teno (kayu senu), tanam pada empat sudut kebun agar padi dan jagung tidak dimakan burung-burung, babi hutan dan binatang lainnya”. Wéla Runu menuruti suruhan Empo Rua, lalu keempat potong kayu senu itu ditanam disudut kebun itu. Setelah selesai ditanam, Wéla Runu kembali ke pondok dan melaporkan kepada Empo Rua yang sedang menantikan di pondok.
Keesokkannya Wéla Runu kembali ke kebun, tetapi kali ini ia tidak terlalu bergegas, ia ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh Empo Rua kemarin. Wéla Runu tiba di kebun setelah matahari agak tinggi. Ia menyaaksikan tak seekor burung dan binatang yang memakan padi dan jagungnya, lewat di kebunnya pun tidak. Wéla Runu menganguk-angguk, “benar kata nenek Empo Rua kemarin”. Ia berjalan di seputar kebunnya, tak ada bekas kerusakan tanaman untuk pagi itu. Wéla Runu kembali ke pondok, ia duduk di depan pondoknya, tetapi hingga tengah hari tak seekor burung pipit dan bintang lain yang datang ke kebunnya. Beberapa saat kemudian, ibunya datang menghantarkan makanan. Wéla Runu tidak menceritakan kejadian itu kepada ibunya, juga kepada ayahnya di rumah. Setelah itu ibunya pulang, sedangkan ia sendiri bersama-sama kawannya pulang sore agak gelap. Kira-kira pukul 07. 00 pagi keesokkan harinya Wéla Runu telah berada di kebunnya. Sesaat kemudian Empo Rua datang ke pondok Wéla Runu sambil berkata,”cucu, ini temanmu.” Wéla Runu menerima ayam jantan itu dan berkata, “terima kasih, nek.” Wéla Runu menambatkan ayam jantan itu di kolong pondoknya.
Empo Rua pamit kembali ke rumahnya. Ayam jantan itu berkokok satu kali, Wéla Runu melihat ke kolong, ia melihat seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sebaya dengannya. Wéla Runu memanggil kedua anak itu masuk ke pondok. Kedua anak itu masuk ke pondok dengan sopan. Mereka bertiga akrab sekali seolah-olah kawan lama. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang akrab dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Tengh hari ibu Wéla Runu menghantar makanan, ia heran melihat kedua anak itu, diperhatikannya dengan teliti barangkali kawannya sekampung, tetapi tidak ada anak warga kampung yang serupa dengan kedua anak itu. Wéla Runu tahu keheranan ibunya, karena itu ia menjelaskan kepada ibunya perihal kedua anak itu. Lalu Wéla Runu mempersilahkan ibunya kembali ke kampung, alat-alat makan dibawanya sendiri sore. Wéla Runu mengajak kedua temannya itu ke rumah.
Kedua temannya berkata, “kak, kami hanya menghantar kakak sampai di depan kampung, lalu kami kembali ke pondok bersama ayam jantan ini, karena nenek Empo Rua menugaskan kami menjaga kebun”. Wéla Runu tidak memaksa kedua temannya itu agar mereka tidak mendapat siksaan dari nenek Empo Rua. Ketiganya berangkat ke kampung bersama ayam jantan itu. Sampai di depan kampung, kedua teman Wéla Runu itu kembali ke kebun bersama ayam jantan.
Panen jagung diseluruh ladang warga kampung, ada yang mengembirakan petani, ada pula yang kurang memuaskan, karena serangan Babi hutan , burung gagak serta binatang lainnya. Keluarga Wéla Runu berbeda dengan yang lain mereka mendapat panen jagung yang melimpah. Demikian pula panen padi keluarga Wéla Runu terlalu jauh perbedaannya dengan keluarga lain. Rumah mereka tak mampu menampung, sehingga dibuat sebuah gudang untuk menyimpan padi itu. Ayah Wéla Runu mengadakan pesta syukuran, karena penghasilan yang diperoleh memang patut disyukuri. Empo Rua juga diundang untuk menghadiri pesta tersebut. Pada malam pesta itu Empo Rua datang sekitar pukul sepuluh malam. Ia dipersilahkan duduk bersama tamu yang dihormati. Pesta itu meriah sekali dan tamu-tamu bersukaria hingga pagi, kecuali Empo Rua berpamit pada saat ayam berkokok yang ketiga kalinya. Sebelum ia berangkat ia memesan kepada ayah Wéla Runu agar Wéla Runu pergi ke pondok untuk menerima sesuatu hal yang perlu disampaikan. Tanpa curiga sedikitpun, Wéla Runu pergi ke kebun untuk menemui Empo Rua. Kedua teman Wéla Runu gembira sekali bertemu dengan dia di pondok. Mereka berbicara dan tertawa gembira sebelum Empo Rua datang. Wéla Runu menceritakan kepada mereka suasana pesta yang ramai, tamu-tamu yang hadir, dan persiapan makanan dan lauk yang memuaskan para tamu. Sementara mereka bertiga asyik bercerita Empo Rua muncul. Ia tertawa ria sehingga tidak menimbulkan kecurigaan pada ketiga anak itu. Setelah duduk beberapa saat Empo Rua berkata,”cu, mari kita ke rumah, ada yang akan saya sampaikan dan hadiah untuk kalian”.
Tanpa rasa curiga ketiga anak itu pergi bersama Empo Rua ke rumahnya di hutan. Sampai pada batas kebun dengan kawasan hutan, ayam jantan berkokok, “kakor o . . . . . o . . . . . o cai lé oné céwé mésé (cai lé = sampai disana, sampai di rumah, oné = di dalam, céwé = kuali, mésé = besar), artinya sampai di rumah kalian akan di masak pada kuali besar. Ayam jantan itu berkokok samapai lima kali hingga di depan rumah Empo Rua. Wéla Runu dan kedua orang temannya sudah mencurigai niat jahat Empo Rua sejak ayam jantan itu berkokok kedua kalinya. Mereka masing-masing memendamkannya, karena mereka tidak mungkin lari, mereka terjepit dengan kenyataan bahwa mereka telah berada dalam genggaman raksasa.
Sebelum masuk ke rumah, Empo Rua memanggil isterinya, “Jo, Jo, Jo, ini cucu-cucu kita yang molek dan ganteng”. Wulu Jo senang sekali mendapat ketiga cucu itu, lalu katanya, “cu, cu, masuklah, nenek telah menyiapkan kamar untuk kalian”. Ketiga anak itu berjalan di depan, Empo Rua mengikuti mereka masuk ke rumah. Wulu Jo menerima anak-anak itu dengan riang gembira dan akrab sekali. Tetapi ketiga anak itu telah mengetahui niat jahat suami-isteri itu.
Pada malam hari Wéla Runu dan teman wanitanya tidur sekamar, anak laki-laki dan ayam jantan tidur di kamar lain. Wéla Runu memperhatikan keadaan kamar dengan cermat. Lantai rumah terbuat dari bambu, demikian pula di kamar Wéla Runu serta bambu sudah lapuk. Wéla Runu memberitahukan kawannya dengan cara berbisik agar mereka berusaha lolos dari rumah itu, lari pada saat Empo Rua dan Wulu Jo tidur nyenyak. Kawannya menanyakan, “kak, kita keluar dari sini lewat mana?” Wéla Runu menjawab,”ikut kolong, kita bersama-sama membuat lubang pada lantai. Kita harus berusaha agar bambu lencar ini patah, tetapi hindarkan bunyi patahan yang bisa di dengar orang”. Setelah menimbang pembicaraan Wéla Runu, gadis yang seorang itu menjawab,”baiklah, kak, itu rencana yang baik”.
Merekapun mulai mematahkan bambu léncar itu perlahan-lahan. Pertama dan kedua bambu léncar dipatahkan belum menimbulkan kecurigaan pada anak laki-laki yang sekamar dengan ayam jantan itu.
Bunyi patahan ketiga anak laki-laki itu menanyakan, “apa yang kamu lakukan itu?” Wéla Runu menjawab,”tidak buat apa-apa, kami memukul pijat”. Anak laki-laki berkata lagi,”jika kalian tidak memberitahukan saya, perbuatan kalian akan saya laporkan kepada nenek Empo Rua dan Wulu Jo”. Wéla Runu memberitahu anak laki-laki itu melalui lubang celah dinding, “sebaiknya kita lari dari sini, kami sedang membuat lubang pada lantai, agar kita keluar melalui kolong. Beritahu ayam jantan itu untuk memata-matai Empo Rua dan Wulu Jo. Ia tolong beritahu kita, apakah keduanya telah tidur dengan nyenyak, sehingga kita dapat keluar satu-persatu dari sini”. Anak laki-laki itu berkata, “kawan, tolong beritahu kami apabila Empo Rua dan Wulu Jo telah tidur nyenyak, bantulah kami kawan”. Ayam jantan itu seolah-olah memberi jawaban kepada anak-anak itu, “kok”.
Tengah malam Wéla Runu dan kawan-kawannya menghancurkan cabe rawit sebanyak tiga tabung. Ayam jantan berkokok, “kakor . . . . . . o . . . . . o mereka telah tidur”. Ia memberitahu bahwa Empo Rua dan Wulu Jo telah tidur. Ketiga anak itu mulai bersiap-siap. Kira-kira pukul 02.00 ayam jantan itu berkokok lagi, “kakor . . . . .o . . . . . o keduanya telah nyenyak”. Wéla Runu melalui lubang di kolong dengan hati-hati sekali, lalu menanti kedua kawannya dalam semak beberapa meter dari rumah Empo Rua. Setelah itu berturut kawan wanitanya dan anak laki-laki itu. Ketiganya bergegas pergi dari tempat itu agar tidak kedapatan oleh Empo Rua.
Malam itu bulan terang benar karena tak ada kabut yang merintangi cahaya bulan menerangi bumi. Setelah jauh dari rumah Empo Rua, sampailah mereka pada tempat yang rata dan luas. Di tempat itu ada sebuah danau besar dan airnya jernih. Pada tepi danau itu terdapat sebuah pohon yang paling besar diantara pohon lainnya. Ketiga anak itu sepakat tidur sambil menanti fajar tiba untuk meelanjutkan perjalanan.
Wéla Runu mngusulkan tidur pada cabang batang pohon besar itu tetapi yang cukup tinggi dari tanah, agar tidak terjangkau oleh Empo Rua apabila ia telah mengetahui kalau mereka telah lari dari rumah. Empo Rua pasti mencari dan mengejar mereka. Ketiganya satu-persatu memanjat ke cabang yang terjauh dari tanah. Wéla Runu memberitahu kedua temannya untuk tidur, tetapi tetap waspada. Belum beberapa lama mereka tidur, kedengaran suara geram dan derap langkah yang hebat. Itulah Empo Rua yang mengejar dan mencari mereka. Anak-anak melihat dengan jelas bayang-bayang hitam besar dan tinggi menuju tempat itu. Empo Rua memepercepat langkahnya, dan rupa-rupanya ia telah mencium bau badan manusia. Sampai di danua itu Empo Rua berhenti, lalu berjalan ke kiri dan ke kanan dekat pohon besar tempat anak-anak itu bersembunyi. Pohon itu tidak terlalu rimbun daunnya sehingga cahaya bulan menerangi air danau dibawah pohon itu. Bayang-bayang ketiga anak itu kelihatan jelas di air danau. Empo Rua senang benar melihat mangsanya ada di air danau, karena itu ia menceburkan dirinya ke air sambil tangannya menangkap tetapi kosong sehingga ia sangat kecewa. Empo Rua lompat kembali ke darat dengan geram. Ia melihat kembali ke danau terlihat lagi dua anak wanita dan seorang anak laki-laki. Ia mencebur lagi sambil menangkap, juga kosong. Ia melakukan itu sampai lima kali, hasilnya sama saja. Empo Rua sungguh-sungguh kecewa dan marah. Ia marah dengan geram sambil mengumpat-umpat. Sementara ia marah karena kecewa, secara tidak sengaja ia menengadah ke atas pohon. Betapa girangnya Empo Rua melihat ke tiga anak itu di atas pohon. Ia menari-nari kesana ke mari, derap langkahnya begitu kuat sehingga tanah di tempat ia menari bagaikan diguncang gempa. Ketiga anak itu telah siap dengan tabung air lombok cabe rawit untuk disiram ke mata Empo Rua yang sedang membelalak. Empo Rua memanjat pohon itu, ia sungguh-sungguh bertekad menangkap ketiga anak itu dan dibawa kembali ke rumahnya.
Ketika Empo Rua hampir mendekati cabang yang di tempati anak-anak itu, mereka secara bersama-sama dan serentak menyirami mata Empo Rua dengan air lombok. Empo Rua kepedisan, ia menggosok-gosok matanya dengan tangan. Semakin ia menggosok matanya dengan tangan, pedis matanya semakin hebat. Empo Rua gemetaran kepedisan, lalu jatuh ke tanah. Ia meminta bantuan kepada ketiga anak itu, bagaimana cara menghilangkan kepedisan matanya itu. Kebetulan tak jauh dari tempat Empo rua ada batu yang ujungnya lancip dan tajam. Wéla Runu menjawab permintaan Empo Rua, “nek, cocokkan porosmu pada batu tajam itu agar pedis di matamu hilang”.
Tanpa memperhitungkan akibat dari saran Wéla Runu itu, Empo Rua mengambil ancang-ancang dan dengan kekuatan dahsyat ia mencocokkan kedudukannya dan poros ke batu tajam itu. Ia berteriak hebat dan sesudah itu tidak kedengaran apa-apa lagi, ia telah mati. Anak-anak melihat tubuh Empo Rua terbelah dari poros hingga ke lehernya. Mereka bergegas turun dan segera meninggalkan tempat itu, agar tidak kedapatan oleh Wulu Jo yang mungkin akan menyusul suaminya, setelah berjalan beberapa lama matahari mulai bersinar di ufuk timur. Mereka pergi ke kampung Wéla Runu. Beberapa jam kemudian mereka pun tiba di kampung Wéla Runu. Kedua orang tua dan seluruh keluarga Wéla Runu sangat gembira kepada anak mereka yang telah hilang selama lima hari telah kembali. Orang tua Wéla Runu menanyakan asal kedua kawannya itu. Mereka menjawab bahwa mereka berasal dari kampung masing-masing yang sangat jauh dari kampung itu. Merekapun diculik pada saat menjaga burung, babi hutan, kera serta binatang lain yang menyerang tanaman. Jalan ke kampung mereka tidak tahu karena dibawa oleh Empo Rua dalam hutan yang sangat lebat. Wéla Runu mengisahkan secara rinci usaha mereka meloloskan diri dari rumah Empo Rua. Selanjutnya kedua kawan Wéla Runu diangkat orang tuanya sebagai anak mereka.


POTI WOLO DAN KIMPUR TILU

4

Lanur mengerjakan ladang bersama-sama dengan warga kampung. Ladang mereka terletak ditepi hutan, dan yang paling dekat dengan hutan adalah ladang milik Lanur. Mereka mengerjakan ladang itu kurang lebih 2 bulan. Bulan ketiga mereka menanami ladang tersebut dengan jagung dan padi. Benih-benih itu ludes dimakan kera-kera yang tinggal di hutan sekitar kawasan hutan. Lanur dan isterinya menanam kembali menggantikan yang telah dimakan kera. Tetapi setiap kali digantikan selalu dimakan kera. Lanur dan isterinya mengeluh, persediaan benih telah habis. Mereka hendak meminta benih kepada orang lain, tetapi niat mereka diurungkan, karena mereka tahu akan habis dimakan kera.

Suatu hari Timung Té’é pergi ke hutan mencari sayur-sayuran hutan, sayur-sayuran cukup banyak, tetapi tumbuhnya sangat jarang diantara pohon-pohon besar. Kera-kera berayun pada cabang pohon-pohon besar itu. Sampailah Timung Té’é pada sebuah pohon yang dihuni kera paling besar, gemuk, tambun dan tengkuknya padat berisi. Kera seperti itu orang Manggarai menyebutnya Kodé Seket. Sayur-sayuran hutan di sekitar pohon itu sangat banyak. Kodé Seket memperhatikan Timung Té’é yang sedang memetik sayur, ia sangat mengagumi kecantikan wanita itu. Kodé Seket itu terbius oleh kecantikan Timung Té’é , sehingga timbul niatnya untuk menggoda dan berbuat jahat terhadap Timung Té’é . Tetapi ia belum berani melakukan hal itu karena segan akan keanggunan dan kewibawaan Timung Té’é. Kodé Seket itu terbuai dalam lamunan membayangkan kebahagiaan saat bersanding dengan Timung Té’é di pelaminan. Lamunan Kodé Seket itu menerawang ke alam mimpi yang indah dan romantis, sehingga tak disadarinya ia berteriak, “matak iné, hombés molasn” (aduhai, sungguh cantiknya). Timung Té’é tidak menghiraukan pujian Kodé Seket itu, ia mengira hanya main-main. Hari-hari selanjutnya terjadi hal yang sama, sehingga kesabaran Timung Té’é menjadi hilang. Benih jagung dan padi telah mereka habiskan, muncul ulah godaan terhadap dirinya, pujian bernada cinta.
Timung Té’é selalu penasaran karena ulah kode seket itu. Timung Té’é tak bisa sabar terus-menerus, karena itu ia melaporkan ulah Kodé Seket itu kepada suaminya. Lanur sangat marah mendengar penyampaian isterinya, tetapi Timung Té’é dapat menenangkannya. Timung Té’é berkata, “bapak tak usah marah, karena tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita mencari akal untuk memusnahkan Kodé Seket itu dan kawan-kawannya. Kera-kera itu keterlaluan, benih padi dan jagung kita telah ludes, lalu Kodé Seket menggoda dan akan menikahi aku bila bapak telah meninggal. Kodé Seket itu mengira bahwa aku ini perempuan yang tidak tahu diri dan tidak tahu menghormati serta menghargai suamiku”. Lanur menerima saran isterinya, lalu mengusulkan untuk memasang jerat dan ranjau pada batas hutan dan ladang mereka. Timung Té’é berkeberatan terhadap usul Lanur lalu katanya, “bapak, cara itu kurang tepat karena keterbatasan waktu dan bahan-bahan yang diperlukan terlalu banyak. Aku mengusulkan kita mengulangi cara yang kita lakukan terhadap Kodé Lama. Kita baringkan sebatang kayu besar setinggi bapak, dibungkus kain kafan. Bapak dan tiga ekor anjing bersembunyi dalam wadah di loteng. Bapak dan tiga ekor anjing itu turun secepatnya dari loteng apabila lubang-lubang lantai, dinding telah ditutup serta pintu diiikat kuat-kuat. Seorang pemuda kampung kita undang semalam sebelumnya, kita ceritakan rencana kita dan diberi petunjuk bagaimana cara mengabarkan kematian bapak di hutan di kediaman kode seket itu”. Lanur berpikir sejenak, lalu katanya, “usulmu itu baik, cara itulah yang kita gunakan”.
Keesokkan paginya sebatang kayu dibungkus kain kafan seperti membungkus mayat. Petugas yang bertugas mengabarkan kematian Lanur berangkat ke hutan.
Orang itu masuk ke setiap kelompok tempat tinggal kera-kera itu dan mengabarkan tentang kematian Lanur. Demikian pula dilakukan di tempat tinggal si Kodé Seket. Mendengar kabar itu, Kodé Seket menyuruh beberapa kera untuk memanggil pemimpin-pemimpin kelompok untuk segera menghadap.
Kera-kera itu bergegas pergi memanggil para pemimpin kelompok itu. Beberapa saat kemudian pemimpin kelompok datang menghadap. Setelah semuanya hadir, Kodé Seket memberitahukan tentang kematian Lanur serta menyuruh mereka pergi melayat jenazah Lanur. Mereka berkumpul pada satu tempat menunggu Kodé Seket dan rombonganya tiba, lalu bersama-sama ke podok Lanur. Pemimpin-pemimpin kelompok pulang ke tempat masing-masing, setiap pemimpin memanggil seluruh rakyat mereka. Kepada mereka diberitahukan kematian Lanur dan perintyah kode seket untuk ikut melayati jenazah Lanur, tak boleh ada yang berkeberatan. Kodé Seket dan rombongannya tiba, berhenti sejenak lalu mereka berangkat ke pondok Lanur, dan meyuruh mereka supaya seluruh penghuni kelompok pergi melayati jenazah Lanur. Mereka berkumpul pada satu tempat menanti Kodé Seket dan rombongannya tiba, la bersama-sama ke pondok Lanur. Pemimmpin-pemimpin kelompok pulang ke tempat masing-masing, setiap pemimpin memanggil seluruh rakyat mereka. Kepada mereka diberitahukan tentang kematian Lanur dan perintah Kodé Seket untuk ikut melayati jenazah Lanur, tak ada yang berkeberatan. Kera-kera itu telah berkumpul pada tempat yang telah ditentukan. Kodé Seket dan rombongannya tiba, berhenti sejenak lalu mereka berangkat ke pondok Lanur.
Pemuda yang ditugaskan menyampaikan berita kematian telah kembali. Ia bersama Lanur dan tiga ekor anjing bersembunyi di loteng. Selang beberapa jam rombongan kera-kera itu datang. Kodé Seket berjalan paling depan, sebentar-sebentar tersenyum, karena ia merasa girang mendapatkan Timung Té’é sebagai isteri, apabila Lanur telah dikuburkan. Ia membayangkan dan menghayalkan ucapan ayu bahagia para undangan, sahabat, kenalan, dan kaum kerabat pada saat keduannya besanding di pelaminan. Senyum kebahagian Kodé Seket itu, dalam bahasa daerah Manggarai dikenal dengan istilah sumir samir atau sumi samir, menandakan suatu kepastian tetapi ia tak pernah menduga bahwa sebentar lagi maut akan merenggut nyawanya dan seluruh rakyatnya.
Demikian gembiranya Kodé Seket saat itu, sehingga tak sempat memikirkan hal-hal yang mengancam keselamatan, baik ia sendiri maupun seluruh rakyatnya. Timung Té’é meratapi jenazah suaminya sambil mengucapkan kata-kata yang menyayati para pelayat. Semakin rombongan kera-kera dekat ke pondok, tangis Timung Té’é semakin memilukan hati oarng yang mendengarnya. Rombongan tiba di depan pintu pondok, mereka melihat jenazah yang dibungkus kain kafan.
KodéSeket masuk ke pondok dan diikuti para pemimpin kelompok dan kera-kera yang lain. Diantara kera-kera itu ada seekor kera betina yang sedang hamil. Kodé Seket duduk berdampingan dengan Timung Té’é, para pemimpin kelompok di sisi jenazah yang berlawanan, kera-kera lain diseluruh ruangan. Ratapan Timung Té’é sambil mengucapkan kata-kata, antara lain, “aduh, nasibku malang tak ada yang menyamai pribadi Lanur, segala kebutuhan keluarga selalu terpenuhi. Kepada siapa lagi tempat aku bergantung, tak ada lagi yang akan mencari kayu api, makan dan kebtuhan lain-lain”. Kodé Seket berkata menghibur Timung Té’é, “jangan kuatir, ada aku, segala kebutuhan akan kupenuhi”. Ia memerintahkan rakyatnya mengambil kayu api, makan dan sayur-sayuran. Beberapa saat kemudian mereka kembali membawa kayu api, jagung, pisang, dan sayur-sayuran.
Timung Té’é meratapi lagi jenazah itu, sehingga Kode Seket berkata, “apa lagi yang engkau perlukan Timung Té’é , padahal kayu api, makanan, dan sayur-sayuran telah ada. “Timung Té’é tidak menghiraukan pertanyaan Kodé Seket itu. Ia terus meratapi jenazah sambil mengucapkan kata-kata, “tidak ada orang yang menutup lubang dinding, lantai dan mengikat pintu. “Kodé Seket menyuruh kera-kera itu menutup lubang-lubang dinding, lantai dan mengikat pintu kuat-kuat. Kera betina yang hamil tidak menutup lubang lantai di dekat ia duduk, karena ia mempunyai firasat, bahwa Timung Té’é memperdaya mereka.
Maut menimpa Kodé Seket dan rakyatnya tak dapat dihindari. Timung Té’é menangis kuat-kuat sambil mengucapkan, “lubang dinding, lantai telah di tutup dan pintu telah diikat kuat-kuat. “Lanur, si pemuda dan tiga ekor anjing turun tiba-tiba dari loteng. Anjing menggigit kera-kera itu, Lanur dan pemuda itu memukul dengan kayu kudung. Sementara kera-kera itu hiruk-pikuk, kera betina hamil keluar lewat lubang di dekatnya, lalu lari ke hutan. Kodé Seket dan kera-kera lainnya mati tak seekorpun yang luput.
Lanur dan pemuda itu membuka kain pembungkus kayu, membenahi segala sesuatu yang diperlukan, dan mereka mulai menguliti kera-kera itu.
Keluarga Lanur berpesta, dan tidak ada hal-hal yang perlu dirisaukan, sebab makanan, sayur-sayuran dan kayu api telah tersedia. Daging kera-kera dibuat dendeng selain mereka yang butuhkan saat itu. Setiap hari keluarga Lanur makan bagaikan suasana pesta.
Pada suatu hari poti wolo lewat di depan pondok Lanur. Ia tercengang melihat dendeng kera yang begitu banyak. Poti wolo itu tanyakan kepada Lanur bagaiman caranya ia membunuh kera-kera itu. Lanur menceritakan secara rinci cara yang mereka lakukan menangkap kera-kera itu. Poti wolo merasa tertarik iapun berniat melakukan hal yang sama seperti itu. Ia pamit dan bergegas kembali ke liangnya yang cukup ajuh dari pondok Lanur dan kawasan hutan yang dihuni kera-kera yang telah musnah itu. Tiba diliangnya, Poti Wolo menceriterakan kelimpahan daging kera di pondok Lanur kepada isterinya Kimpur Tilu.
Ia menceriterakan pula bagaimana caranya : “Lanur menangkap kera-kera itu?”. Ceritera Poti Wolo itu menarik perhatian istrenya Kimpur Tilu. Karena itu keduanya sepakat melakukan hal yang sama. Poti Wolo dan Kimpur Tilu membahas saat usaha mereka dilaksanakan. Besoknya Poti Wolo dibaringkan dan dibungkus seperti mayat. Semambu (kayu kudung) ditempatkan disampingnya, yang kelak digunakan memukul kera-kera itu. Kimpur Tilu pergi mengabarkan kematian Poti Wolo kepada pemimpin kera sekitar kawasan liang itu. Ia menyampaikan berita sedih itu sambil mengucurkan air mata. Pemimpin kera itu merasa sedih menerima berita itu dan kesedihan yang menimpa Kimpur Tilu. Ia memberitahu Kimpur Tilu, mereka akan pergi melayat jenazah Poti Wolo. Kimpur Tilu merasa bahagia sekali mendengar penyampaian pemimpin kera itu, tetapi perasaannya tak diungkapkan, dan ia tetap menunjukan roman muka diliputi suasana kedukaan. Kimpur Tilu kembali keliangnya, dan setelah agak jauh dari tempat pemimpin kera itu, rasa bahagianya timbul, sehingga ia telah memikirkan tempat menjemur dendeng kera itu apabila liangnya tak mampu menampung.
Tiba diliang ia memberitahu suaminya Poti Wolo sebentar lagi kera-kera datang. Ia duduk dipintu liang untuk melihat kedatangan rombongan kera itu. Tidak berapa lama kemudian muncullah rombongan kera, dan pemimpinnya berjalan paling depan. Kimpur Tilu bangkit, bergegas ketempat suaminya baring. Ia meratapi suaminya agar kera-kera itu mendengar dan meyakinkan mereka bahwa Poti Wolo itu benar-benar telah mati. Kera-kera itu semakin dekat pada liang Poti Wolo, ratapan Kimpur Tilu menjadi-jadi dan menyedihkan rombongan pelayat. Pemimpin kera masuk ke liang diikuti rakyatnya. Air liur Poti Wolo tak terbendung lagi ingin memakan daging kera. Sudah disepakati, aba-aba Poti Wolo untuk bangun serentak, apabila terdengar ratapan Kimpur Tilu sambil mengucapkan kata-kata pintu telah ditutup. Karena keinginan untuk memakan daging kera demikian hebatnya, maka Poti Wolo itu bangun sebelum Kimpur Tilu mengucapkan bahwa pintu telah ditutup. Kera-kera itu berhamburan keluar, lari meluputkan diri masing-masing. Tak seekorpun kera-kera itu yang tertangkap. Poti Wolo sungguh sial hari itu, sehingga niat mereka untuk berpesta pora memakan daging kera buyar. Kimpur Tilu sangata marah dan kecewa. Ia memarahi suaminya, “memang dasar laki-laki rakus, rasai sendiri. Melakukan sesuatu tanpa pertimbangan akal dengan sehat”.